Lentera

Indonesia dan Australia Berkolaborasi Hasilkan Baja Emisi Nol Bersih

PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) menerapkan peralihan dari gas alam ke hidrogen ramah lingkungan

SENANDIKA.REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA —Salah satu perusahaan baja swasta nasional PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP), menerapkan teknologi Australia pada fasilitas produksinya. GRP berencana mengurangi emisi karbon industri baja melalui inisiasi peralihan dari gas alam ke hidrogen ramah lingkungan.

Inisiatif tersebut didukung pemerintah Indonesia dan Australia melalui sebuah studi kelayakan teknis yang dilakukan Katalis, program pengembangan bisnis bilateral bentukan dari kedua pemerintah.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Jika ini terlaksana, GRP akan menggantikan penggunaan gas alam pada pabriknya di Cikarang, Jawa Barat, dengan hidrogen ramah lingkungan yang diproduksi perusahaan energi ramah lingkungan asal Australia, Fortescue.

“Transisi menuju ekonomi ramah lingkungan memerlukan upaya bersama antarbisnis untuk berkolaborasi, berinovasi, dan berinvestasi," ujar Direktur Katalis, Paul Bartlett, dalam siaran pers, Senin (6/11/2023).

Katalis mendukung studi kelayakan teknis yang akan berpengaruh pada kelayakan produksi besi dan baja tanpa emisi. Lalu pada saat yang sama memajukan kemitraan ekonomi dan integrasi pasar antara Indonesia dan Australia.

Studi kelayakan teknis tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman GRP dan Fortescue yang ditandatangani pada acara KTT B20 di Bali pada November 2022. Sesuai MOU, kedua pihak sepakat menyelidiki peran hidrogen dan amonia ramah lingkungan yang dipasok oleh Fortescue dalam upaya dekarbonisasi pada pabrik-pabrik baja GRP, serta peluang offtake.

Nota kesepahaman dan studi kelayakan teknis ini, dapat membantu mewujudkan niat GRP mencapai pengurangan emisi karbon secara penuh pada 2030 dan netralitas karbon pada 2050.

“Dekarbonisasi produksi baja sejalan dengan komitmen kami untuk mencapai net zero, dan menghasilkan keunggulan kompetitif secara regional. Dukungan Katalis terhadap studi kelayakan teknis untuk memanfaatkan hidrogen ramah lingkungan di pabrik kami di Jawa Barat akan sangat mendorong inovasi dan model komersial baru,” kata Anggota Komite Eksekutif GRP, Kimin Tanoto.

Energi dari gas merupakan komponen penting dalam proses produksi baja. Ke depannya, GRP dan Fortescue akan menelusuri peluang mengembangkan fasilitas hidrogen ramah lingkungan di dalam pabrik baja GRP di Cikarang, yang luasnya lebih dari 200 hektar.

Hidrogen ramah lingkungan yang diproduksi di pabrik tersebut direncanakan akan menggantikan gas alam yang saat ini digunakan dalam proses hilir, dan memastikan efisiensi berkelanjutan dalam produksi baja.

Dengan masukan teknis dari Fortescue, studi kelayakan teknis yang didanai Katalis itu akan menganalisis potensi penggantian pembakaran gas alam yang mengeluarkan karbon, dalam operasi manufaktur baja pembakaran stasioner GRP dengan gas hidrogen ramah lingkungan.